Waktu Baca: 2 Menit
Konstipasi pada anak adalah salah satu keluhan yang paling sering dialami, terutama pada usia balita dan prasekolah. Banyak orang tua baru menyadarinya ketika Si Kecil mulai terlihat kesakitan saat buang air besar atau bahkan menahan BAB karena takut terasa sakit.
Oleh karena itu, memahami ciri ciri konstipasi dan penyebabnya bisa membantu Moms menangani kondisi ini lebih cepat dan tepat.
Penyebab Konstipasi
Beberapa hal yang sering menjadi penyebab anak konstipasi antara lain:
1. Pola Makan Rendah Serat
Serat membantu menyerap air dan melunakkan feses. Kurangnya konsumsi sayur, buah, dan makanan berserat membuat feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan.
2. Kurang Cairan
Saat anak kurang minum, tubuh akan menyerap lebih banyak air dari usus sehingga feses menjadi kering dan keras.
3. Faktor Psikologis atau Stres
Perubahan lingkungan atau pengalaman BAB yang menyakitkan bisa membuat anak menahan BAB. Semakin lama ditahan, feses akan semakin keras dan sulit dikeluarkan.
Kenapa Anak Sering Mengalami Konstipasi?
Beberapa kondisi berikut dapat membuat anak lebih rentan mengalami konstipasi:
1. Sistem Pencernaan Masih Berkembang
Gerakan usus anak belum seefektif orang dewasa dalam mendorong feses keluar. Akibatnya, feses bisa lebih lama berada di usus, kehilangan banyak cairan, menjadi keras, dan akhirnya sulit dikeluarkan.
2. Masa Toilet Training
Anak bisa menahan BAB karena belum terbiasa duduk di toilet atau pernah merasakan nyeri sebelumnya.
Ciri-ciri Konstipasi yang Perlu Moms Ketahui
Moms bisa mengenali kondisi konstipasi melalui beberapa tanda berikut:
- BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu
- Feses keras, besar, atau kering
- Anak tampak kesakitan atau menangis saat BAB
- Perut terasa kembung atau keras
- Kadang ada bercak darah kecil akibat luka di anus
Baca Juga: Pilihan Makanan Anak Diare
Cara Mengatasi Konstipasi pada Anak di Rumah
Jika masih ringan, Moms bisa mencoba beberapa cara mengatasi konstipasi pada anak berikut:
- Tingkatkan asupan cairan
- Tingkatkan konsumsi sayur dan buah
- Kurangi konsumsi makanan yang menyebabkan konstipasi
- Ajak anak duduk di toilet secara teratur tanpa tekanan
- Berikan dukungan emosional agar anak tidak takut BAB
- Hindari memberikan obat pencahar tanpa saran dokter, terutama pada anak di bawah usia tertentu.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun sebagian besar kasus konstipasi pada anak bisa ditangani di rumah, ada beberapa kondisi yang tidak boleh diabaikan. Segera konsultasikan ke dokter jika Si Kecil mengalami hal berikut:
- Sudah seminggu tidak BAB sama sekali
- BAB tidak tertahan (keluar tanpa disadari)
- Anak mengalami nyeri hebat saat BAB atau sampai berdarah
- Nafsu makan dan minum menurun drastis
- Anak tampak sangat lemas, demam, atau muntah
Cara Mencegah Konstipasi pada Anak
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Moms bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk membantu menjaga pencernaan Si Kecil tetap lancar:
1. Biasakan Konsumsi Buah dan Sayur
Serat dari buah dan sayur membantu melunakkan feses dan memperlancar pergerakan usus.
2. Pastikan Asupan Cairan Cukup
Minum air yang cukup menjaga feses tetap lembap sehingga lebih mudah dikeluarkan.
3. Bangun Jadwal BAB yang Rutin
Ajak anak duduk di toilet setelah makan selama 5–10 menit untuk melatih kebiasaan buang air besar yang teratur.
4. Dorong Anak Tetap Aktif Bergerak
Aktivitas fisik membantu merangsang gerakan usus agar bekerja lebih optimal.
Selain kebiasaan harian tersebut, Moms juga bisa melengkapi kebutuhan nutrisi Si Kecil dengan susu pertumbuhan yang tepat. Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah LACTOGROW PRO.
LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1–3 tahun dan LACTOGROW PRO 3+ untuk anak usia 4–5 tahun adalah satu-satunya susu pertumbuhan dengan Lactobacillus reuteri yang merupakan salah satu jenis bakteri probiotik yang terbukti secara klinis dapat mendukung kesehatan pencernaan anak intoleransi laktosa, diperkaya dengan Omega 3 & 6, prebiotik Inulin, 13 vitamin, dan 7 mineral.
Pertanyaan Seputar Konstipasi pada Anak
- Apa tanda-tanda anak mengalami konstipasi?
BAB kurang dari tiga kali seminggu, feses keras, sulit atau nyeri saat BAB.
- Apa perubahan perilaku yang biasanya muncul saat konstipasi?
Anak bisa rewel, menahan BAB, kehilangan nafsu makan, atau tampak tidak nyaman.
- Bagaimana mengetahui konstipasi sudah membaik?
Frekuensi BAB kembali normal, feses lebih lunak, dan anak tidak lagi kesakitan saat BAB.
Referensi:
- Johns Hopkins Medicine. Constipation in Children. Retrieved February 2026, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/constipation-in-children
- Kemenkes RI. (2023). Konstipasi pada Anak. Retrieved February 2026, from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2652/konstipasi-pada-anak
- Consolini, Deborah M. (2025). Constipation in Children. Retrieved February 2026, from https://www.msdmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/constipation-in-children
- Healthdirect. (2024). Constipation in Children. Retrieved February 2026, from https://www.healthdirect.gov.au/constipation-in-children
- National Institutes of Health. (2024). Pediatric Functional Constipation. Retrieved February 2026, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537037/
Disclaimer
Penggunaan madu pada setiap produk LACTOGROW untuk anak diatas satu tahun telah diproses dan diuji agar aman dikonsumsi oleh Si Kecil.
Artikel Terkait